SETITIK ASA DITENGAH KETERISOLASIAN


PNPM-Mandiri Perdesaan,

SETITIK ASA DITENGAH KETERISOLASIAN

 

By : Musdamin (FK PNPM-MP Kec. Wawonii Timur)

 

 

Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM-MP) merupakan program pemerintah Indonesia dalam wujud kerangka kebijakan sebagai dasar dan acuan pelaksanaan pelaksanaan program-program penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat yang diluncukan oleh Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono di Kota Palu tanggal 30 April 2007.  Visi dari PNPM-MP ialah mewujudkan kesejahteraan dan kemandirian masyarakat miskin pedesaan, (Petunjuk Teknik Operasional PNPM-MP).  Salah satu harapan program ini adalah kegiatan pembangunan dapat mencapai daerah terpencil dan terisolasi.

Untuk menggapai visi tersebut, PNPM-MP memberikan bantuan yang bukan hanya semata-mata berupa uang akan tetapi lebih merupakan bantuan teknis pendampingan melalui fasilitator guna membantu dan mendampingi masyarakat perdesaan untuk menangkap kesempatan yang ada diantaranya melalui PNPM-Mandiri Perdesaan, mengingat wilayah perdesaan Indonesia adalah ‘rumah’ bagi 2/3 masyarakat miskin di Indonesia.

Proses pendampingan diaplikasikan melalui proses perencanaan dan pelatihan.  Perencanaan ialah suatu proses untuk menentukan tindakan ke depannya melalui urutan pilihan yang teratur sedangkan pelatihan dipandang untuk meningkatkan kapasitas masyarakat miskin perdesaan yang merupakan pembelajaran sebagai proses yang terus menerus dan tidak pernah berakhir (Never ending process).  Diharapkan melalui kedua proses tersebut masyarakat akan terbiasa menjalankan kegiatan PNPM-MP dan kegiatan pembangunan lainnya.

Nun jauh disana, di pulau Wawonii bagian timur merupakan salah satu dari sekian banyak daerah terisolasi yang ada di Indonesia khususnya di Sulawesi Tenggara.  Secara administratif, Wawonii Timur masuk dalam wilayah Kabupaten Konawe.  Kondisi geografis berupa pegunungan dan berhadapan dengan Laut Banda menjadikan daerah tersebut terisolir.  Banyaknya anak sungai tanpa jembatan penghubung, penerangan di malam hari yang tidak menentu serta tidak adanya jaringan telepon seluler semakin memperparah kondisi wilayah tersebut.  Dari penulusuran cerita rakyat yang turun temurun, disebutkan bahwa Kecamatan Wawonii Timur yang dulunya bernama Kecamatan Waworete sudah memiliki penghuni sejak zaman penjajahan Belanda.  Yang masih teringat dibenak para sesepuh kampung bahwa pada tahun 1927 Waworete sudah memiliki Sekolah Rakyat (SR).  Hal lain yang menguatkan ialah adanya bunker tentara Jepang.

 

Imigrasi

Sejak bergulirnya reformasi dan lahirnya otonomi daerah, sedikitpun belum membawa perubahan yang berarti bagi masyarakat Kecamatan Wawonii Timur untuk keluar dari belenggu keterisolasian.  Hasil pertanian, perkebunan dan perikanan tidak mampu mengangkat taraf kesejahteraan masyarakat kearah yang lebih baik karena tidak adanya akses darat ke pusat-pusat perekonomian sehingga mematikan semangat untuk berusaha.  Hasil yang didapatkan hanya cukup untuk bertahan hidup dari hari ke hari.  Satu-satunya akses untuk memasarkan hasil perkebunan dan perikanan hanyalah lewat laut yang memiliki gelombang cukup besar ketika musim timur (April-September).  Janji-janji pembangunan untuk membuka jalan darat silih berganti datang pada saat pemilu seiring dengan bergantinya penguasa(pemerintah) yang belum pernah terealisasi.  Faktor inilah yang memicu lahirnya perpindahan penduduk untuk masuk dan menetap di Kota Kendari dengan pertimbangan masa depan pendidikan bagi anak-anak dan generasi selanjutnya.

 

Musrenbang VS PNPM-Mandiri Perdesaan

Keduanya merupakan produk pemerintah pusat yang ditindak lanjuti ke masing-masing daerah, termasuk ke Kecamatan Wawonii Timur.  Metode pelaksanaan dan realisasi dilapangan melahirkan penilaian tersendiri bagi masyarakat di Wawonii Timur.  Musrenbang yang tidak lebih dari sebuah ritual tahunan dan menggugurkan kewajiban dari amanah UU No. 25 tahun 2004 dan SEB Meneg Bappenas & Mendagri hanya akrab di tingkatan elit desa/kelurahan dan kecamatan serta usulan-usulan yang dihasilkan tidak memiliki kejelasan untuk direalisasikan.  Alasan klasik, anggaran yang terbatas!

PNPM Mandiri Perdesaan masuk di Kecamatan Wawonii Timur ditengah hiruk pikuk menyambut perayaan 17 Agustus 2009.  Sosialisasi yang dilakukan melalui Musyawarah Antar Desa (MAD) Sosialisasi masih disambut dengan setengah hati karena dikhawatirkan memiliki nasib yang sama dengan musrenbang.  Diskusi dan tanya jawab pada saat pelaksanaan Musyawarah Desa (MD) Sosialisasi dijadikan moment untuk menumpahkan segala keluh kesah akan kondisi wilayah yang tidak kunjung membaik sehingga tidak mengherankan, usulan yang dihasilkan pada saat Penggalian Gagasan dan Musyawarah Desa Perempuan dan Perencanaan lebih dominan usulan fisik.  Banyaknya pertanyaan yang bersifat teknis, membuat beberapa jawaban pertanyaan harus dipending karena tidak adanya sarana untuk berkomunikasi dengan fasilitator yang ada dikabupaten.

Pada pelaksanaan Musyawarah Antar Desa (MAD) Prioritas Usulan memberikan pengalaman baru perwakilan desa, merengking usulan dari setiap desa oleh perwakilan desa itu sendiri, sesuatu yang belum pernah dilakukan dalam kegiatan pembangunan lainnya yang terkadang usulan pembangunan hanya diusulkan oleh pihak-pihak tertentu saja.

Memasuki pelaksanaan kegiatan fisik, kehadiran PNPM-MP mulai menjadi bahan pembicaraan hampir seluruh masyarakat di Wawonii Timur karena kekhawatiran akan tidak adanya dana kegiatan mulai hilang.  Kekhawatiran yang kemudian berganti menjadi antusias,  kaum perempuan dalam mengumpulkan dan mengangkut material lokal, pemilik angkutan laut yang mengantar bahan dan pelaku di desa yang tanpa henti beraktifitas menandai hari-hari pertama berjalannya pekerjaan fisik.

Banyak kisah yang didapatkan dari proses perjalanan PNPM-MP di Kecamatan Wawonii Timur, pada pelatihan KPMD misalnya.  Ada seorang KPMD yang kemudian mundur hanya karena tidak punya rasa percaya diri untuk berdiri di depan padahal didesa KPMD yang bersangkutan adalah imam desa.  Ketika ditanya, sang KPMD menjawab bahwa berbeda menjadi imam dengan tampil di depan masyarakat.  Kalau imam posisinya membelakangi jamaah sedangkan tampil didepan rapat menghadap ke peserta rapat.  Kisah lain lagi adalah suasana sore hari dilokasi kerja disalah satu desa (Tekonea) yang berubah menjadi ramai karena bertemunya kaum ibu pengangkut material.  Situasi yang kemudian mengundang kehadiran penjual kue ditambah lagi banyaknya warga yang datang menonton pelaksanaan pekerjaan sehingga keadaan bertambah ramai, maklum karena belum pernah kegiatan pembangunan fisik di desa ini apalagi melibatkan masyarakat itu sendiri.

Ada lagi warga salah satu desa (Lapulu) yang belum pernah seumur hidupnya mengibarkan bendera merah putih dihalaman rumahnya, ketika selesainya pelaksanaan pekerjaan rabat jalan yang melintasi depan rumahnya barulah ia mengibarkan bendera merah putih sambil berkata “hari ini baru kita merdeka karena sudah menikmati hasil pembangunan”.

Itulah pembangunan melalui PNPM-MP dengan sederet kisah positif yang tidak dapat diceritakan satu persatu namun adapula imbas dari kegiatan ini.  Daerah ini yang dikenal  dengan produksi kopranya mulai berkurang.  Hal ini disebabkan oleh beralihnya aktifitas buruh kopra menjadi tenaga kerja, akibatnya banyak pemilik kebun kelapa yang kesulitan mencari buruh kopra.  Jadwal kapal yang sebelumnya sekali dalam seminggu kemudian berubah menjadi dua kali dalam seminggu karena tidak adanya muatan kopra.  Adapula hubungan masyarakat yang sama-sama menjadi pelaku PNPM-MP menjadi renggang dengan alasan yang tidak jelas.

Memasuki tahun 2011, Kecamatan Wawonii Timur masih termasuk lokasi PNPM-MP.  masih banyak terdapat catatan kekurangan yang harus terus dibenahi baik proses perencanaan maupun pelatihan agar lebih baik.  Kini masyarakat mulai menaruh harapan penuh pada PNPM-MP untuk membuka keterisolasian.

 

Jangan wariskan air mata tapi wariskanlah mata air kehidupan agar masyarakat di Wawonii Timur tidak lagi terisolasi

Perihal konawe admin
Black-Id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: