Peran Fasilitator Penyadaran Gender


Oleh Heri Irawan

Dalam upaya pelatihan penyadaran ketidak-adilan gender dalam sejumlah program pemberdayaan, ketidak-optimalan hasil umumnya terjadi karena para fasilitator pendamping seringkali tidak dapat membangkitkan atmosfirnya.

Seperti yang telah dikemukakan di muka bahwa seringkali fasilitator pendamping hanya sekedar menggugurkan tugas dengan menceramahi peserta.

alaupun ada manual panduan pemandu, umumnya hanya dibacakan (dan sekarang melalui LCD) persis seperti yang ada dalam modul, tanpa improvisasi karena keterbatasan kemampuannya, atau karena memang karena tidak punya bekal dan baru mengenal pada program yang kini dijalaninya. Selanjutnya bagaimana kiat seorang fasilitator dalam penyadaran ketidak-adilan gender? Dari sejumlah pengalaman dalam upaya penyadaran ketidak adilan gender, salah satu contoh di bawah ini diharapkan dapat sedikit membantu, sebagai berikut:

Dalam pertemuan penyadaran gender yang dihadiri kaum laki-laki dan perempuan, seorang fasilitator dapat memulai dengan penjelasan ringkas mengenai hal itu dan selanjutnya dapat membagi 3 kelompok, yakni kelompok laki-laki, kelompok perempuan dan gabungan keduanya.

Berikan kerangka untuk pengelompokan ketidak adilan gender yang terjadi dalam keluarga – masyarakat dan kehidupan bernegara, arahkan hingga mereka dapat menyebutkan latar belakang penyebabnya. Amati dan beri umpan dalam proses diskusinya. Jika seorang fasilitator dapat memainkan perannya, akan didapat sejumlah contoh ketidak adilan gender dari ketiga kelompok yang berbeda itu.

Mungkin ada beberapa hal yang sifatnya subyektif dari contoh dikemukakan kelompok perempuan yang cenderung ekstrim, sementara kaum laki-laki cenderung bela diri. Sebaliknya kelompok laki-laki mungkin lebih menyoroti hal yang lebih luas dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Adapun kelompok gabungan cenderung lebih hati-hati dan rasional, karena dalam proses diskusinya mungkin terjadi perdebatan proses tawar-menawar akan apa yang harus dikemukakan. Setelah ketiga kelompok tadi mempresentasikan hasilnya, fasilitator dapat mengajak peserta menyusun pohon masalahnya.

Proses pembelajaran penyadaran gender ini akan lebih hidup manakala fasilitator paham masalahnya dan dapat menggerakan seluruh peserta untuk aktif. Pada beberapa tempat dan program yang pernah saya ikuti, umumnya saya melihat bahwa fasilitator yang benar-benar berlatar belakang ilmu sosial yang lebih cepat menggali emosi peserta untuk turut aktif berpendapat. Dalam hal ini perlu kehati-hatian menunjuk fasilitator yang akan memfasilitasinya, bukan sekedar menggugurkan tugas bahwa sesi penyadaran gender telah tersampaikan dan terlaporkan dalam data SIM. Perlu diingatkan pula oleh fasilitator bahwa penyadaran tentang gender akan lebih bermanfaat bila selanjutnya para peserta secara kongkrit dapat ambil peran (dan ikut serta) dalam mengusahakan sistem sosial yang lebih adil. Misalnya mengupayakan perubahan pola perilaku, kebiasaan, sikap pribadi dan memperjuangkan keadilan dalam keluarganya sendiri.

Berikut beberapa pertanyaan penggerak, sebagai salah satu contoh keadilan gender dalam kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT):
Mengapa sering terjadi kekerasan dalam rumah tangga?
Mengapa korbannya seringkali perempuan dan anak-anak?
Untuk mengurangi dan bahkan menghindari hal itu terjadi, upaya apa yang sebaiknya dilakukan oleh masing-masing pihak, kaum laki-laki dan kaum perempuan?

Dan seterusnya, pertanyaan dapat dikembangkan tergantung perkembangan dan hasil kesimpulan sementara hasil diskusi. Setelah itu arahkan peserta untuk membuat pohon masalah, dan simpulkan. Jangan lupa tanyakan kembali apa yang selanjutnya akan di rumah tangganya sendiri – buatkan catatan dari rencana mereka agar tetap teringat dan lebih termotivasi.

Jika fasilitator paham akan materi dan dapat memainkannya dengan benar, umumnya peserta akan respek dan dapat dengan mudah mengenali – menemukan sumber dan potensi ketidak adilan gender, termasuk secara jujur mengakui apa yang ada dalam dirinya dan keluarganya sendiri.

Kondisi semacam ini juga menyangkut tentang sistem nilai yang diyakini secara pribadi, sikap hidup, perilaku dan kebiasaan dari setiap anggota keluarga yang dapat memicu dan atau meredam terjadinya ketidak-adilan gender.

Selanjutnya, dengan menggunakan kata-kata yang sederhana – fasilitator dpat menganalisa ketidak-adilan gender secara filosofis dan wawasan yang luas. Untuk itu fasilitator harus dapat menekankan pada peserta bahwa perubahan itu seyogyanya dapat dimulai dari diri dan keluarganya sendiri. Nyatalah disini bahwa latar belakang – peran – pengalaman fasilitator dalam penyampaian pesan “ketidak adilan gender” menjadi lebih penting bila dibandingkan dengan SDM pesertanya sendiri. Sekali lagi – jika hanya menggugurkan tugas – fasilitator itu ibarat pipa penyalur modul, pesan yang disampaikannya apa adanya tanpa melihat factor sosial-budaya dan SDM peserta. Walaupun prinsip dasar penyampaian pesan itu adalah adanya penyampai pesan (fasilitator) – adanya pesan itu sendiri – ada penerima pesan.

Jika hanya itu, siapapun dapat menjadi fasilitator, namun yang sering dilupakan adalah: apakah pesan itu tersampaikan dengan benar?

Disadur dari “Peran Fasilitator Pendamping bagi Masyarakat”

Sumber kapuaspostlandak.blogspot.com

Perihal konawe admin
Black-Id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: